Rabu, 30 Mei 2012

Roman Picisan


Inilah yang disebut Roman Picisan
Hal paling aku hindari dalam hidupku. Berpisah kembali untuk sementara waktu. Rengekan manja perempuan yang selalu membuatku bergetar. Air matanya kembali menetes untuk kesekian kali. Air matanya memang tak pernah mengering.
Dan aku, aku selalu menjadi salah satu alasan kenapa ia leluasa meneteskan air matanya.

Usai seminggu di Jakarta, aku harus kembali. Janji yang harusnya aku tepai untuk selalu berdua dengan perempuan ini pupus sudah. Aku kembali meninggalkan dirinya untuk kesekian kalinya.
Dan siang itu, hari yang paling menyebalkan. Air matanya kembali mengalir. Tangan mungilnya mendekap tubuhku erat. Matanya yang basah membuat dadaku sesak. Tapi aku coba untuk tak mengeluarkan air mata (didepannya tentu saja).
Kamu tau, ky, aku enggan untuk mengeluarkan air mata di depan matamu. Meski usai aku antar kau dengan tatapan mataku, untuk kesekian kalinya, usai kau menghilang, mataku basah.
Uff.. aku benci mengarang kisah sentimentil macam ini. Begitu Picisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar